Rumah Haji Ciut Binuang: Rumah Adat Banjar Simbol Keberkahan

lisa


Rumah Haji Ciut Binuang: Rumah Adat Banjar Simbol Keberkahan

Rumah Haji Ciut Binuang merupakan sebuah rumah adat tradisional suku Banjar yang berasal dari daerah Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Rumah ini merupakan salah satu jenis rumah adat Banjar yang masih banyak dijumpai di daerah tersebut dan menjadi salah satu warisan budaya yang dijaga kelestariannya.

Rumah Haji Ciut Binuang memiliki banyak keunikan dan keistimewaan, salah satunya adalah arsitekturnya yang menyerupai perahu. Hal ini melambangkan bahwa masyarakat Banjar merupakan masyarakat yang dekat dengan air dan memiliki tradisi berlayar sejak dahulu. Selain itu, rumah ini juga memiliki berbagai ornamen dan ukiran yang memiliki makna dan filosofi tertentu.

Rumah Haji Ciut Binuang merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Rumah adat ini tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, namun juga memiliki potensi sebagai objek wisata yang menarik.

Rumah Haji Ciut Binuang

Rumah Haji Ciut Binuang merupakan salah satu jenis rumah adat suku Banjar yang memiliki banyak keunikan dan keistimewaan. Rumah ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, serta memiliki potensi sebagai objek wisata yang menarik. Berikut adalah beberapa aspek penting dari Rumah Haji Ciut Binuang:

  • Arsitektur menyerupai perahu
  • Ornamen dan ukiran bermakna
  • Dibangun menggunakan kayu ulin
  • Berbentuk panggung
  • Memiliki banyak kamar
  • Dapat menampung banyak orang
  • Terletak di daerah Binuang, Kalimantan Selatan
  • Merupakan warisan budaya masyarakat Banjar
  • Masih banyak dijumpai di daerah Binuang
  • Memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi

Rumah Haji Ciut Binuang merupakan salah satu bukti kekayaan budaya Indonesia. Rumah adat ini memiliki keunikan dan keistimewaan yang menjadikannya berbeda dengan rumah adat lainnya. Arsitektur menyerupai perahu menjadi salah satu ciri khas yang paling menonjol. Ornamen dan ukiran yang menghiasi rumah ini juga memiliki makna dan filosofi tertentu. Rumah Haji Ciut Binuang tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, tetapi juga memiliki potensi sebagai objek wisata yang menarik. Dengan berkunjung ke daerah Binuang, wisatawan dapat melihat langsung rumah adat ini dan belajar tentang budaya masyarakat Banjar.

Arsitektur menyerupai perahu

Rumah Haji Ciut Binuang memiliki arsitektur yang menyerupai perahu, hal ini merupakan salah satu ciri khas yang paling menonjol dari rumah adat ini. Arsitektur ini melambangkan bahwa masyarakat Banjar merupakan masyarakat yang dekat dengan air dan memiliki tradisi berlayar sejak dahulu.

  • Bentuk atap
    Atap Rumah Haji Ciut Binuang berbentuk seperti perahu, dengan bagian depan yang melengkung dan bagian belakang yang meruncing. Bentuk atap ini berfungsi untuk mengalirkan air hujan dengan cepat, sehingga rumah tidak mudah bocor.
  • Struktur rangka
    Struktur rangka Rumah Haji Ciut Binuang menggunakan kayu ulin yang kuat dan tahan lama. Rangka rumah ini disusun dengan teknik tradisional, tanpa menggunakan paku atau baut.
  • Ornamen dan ukiran
    Rumah Haji Ciut Binuang dihiasi dengan berbagai ornamen dan ukiran yang bermakna. Ornamen dan ukiran ini biasanya menggambarkan flora dan fauna, serta motif-motif tradisional Banjar.
  • Fungsi ruangan
    Rumah Haji Ciut Binuang memiliki banyak ruangan, yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ruangan-ruangan ini biasanya terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, kamar tidur, dan dapur.

Arsitektur Rumah Haji Ciut Binuang yang menyerupai perahu tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memiliki nilai fungsional. Bentuk atap yang melengkung dan meruncing memungkinkan air hujan mengalir dengan cepat, sehingga rumah tidak mudah bocor. Selain itu, struktur rangka yang kuat dan tahan lama membuat rumah ini mampu bertahan dalam berbagai kondisi cuaca. Ornamen dan ukiran yang menghiasi rumah ini juga memiliki makna dan filosofi tertentu, yang mencerminkan budaya masyarakat Banjar.

Ornamen dan ukiran bermakna

Rumah Haji Ciut Binuang dihiasi dengan berbagai ornamen dan ukiran yang bermakna. Ornamen dan ukiran ini biasanya menggambarkan flora dan fauna, serta motif-motif tradisional Banjar. Keberadaan ornamen dan ukiran ini tidak hanya menambah keindahan rumah, tetapi juga memiliki makna dan filosofi tertentu.

Ornamen dan ukiran pada Rumah Haji Ciut Binuang dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu ornamen yang bersifat dekoratif dan ornamen yang bersifat simbolis. Ornamen yang bersifat dekoratif biasanya berupa ukiran flora dan fauna, seperti ukiran bunga, daun, dan hewan. Sedangkan ornamen yang bersifat simbolis biasanya berupa ukiran motif-motif tradisional Banjar, seperti ukiran pucuk rebung, naga, dan burung phoenix.

Setiap ornamen dan ukiran pada Rumah Haji Ciut Binuang memiliki makna dan filosofi tertentu. Misalnya, ukiran pucuk rebung melambangkan harapan dan pertumbuhan, ukiran naga melambangkan kekuatan dan keberanian, dan ukiran burung phoenix melambangkan keabadian dan kebijaksanaan. Dengan demikian, keberadaan ornamen dan ukiran pada Rumah Haji Ciut Binuang tidak hanya menambah keindahan rumah, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Dibangun menggunakan kayu ulin

Kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu yang terkenal dengan kekuatan dan ketahanannya. Kayu ini banyak digunakan untuk berbagai keperluan, salah satunya untuk membangun rumah, termasuk Rumah Haji Ciut Binuang. Penggunaan kayu ulin pada Rumah Haji Ciut Binuang memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:

  • Kekuatan dan daya tahan
    Kayu ulin memiliki kekuatan dan daya tahan yang sangat tinggi. Kayu ini tidak mudah lapuk, rayap, dan jamur. Hal ini membuat Rumah Haji Ciut Binuang dapat berdiri kokoh dalam waktu yang lama.
  • Ketahanan terhadap cuaca
    Kayu ulin juga memiliki ketahanan yang tinggi terhadap cuaca. Kayu ini tidak mudah memuai atau menyusut akibat perubahan cuaca, sehingga Rumah Haji Ciut Binuang tidak mudah rusak.
  • Estetika
    Kayu ulin memiliki warna dan serat yang indah. Kayu ini dapat memperindah tampilan Rumah Haji Ciut Binuang dan memberikan kesan yang elegan.
  • Nilai budaya
    Penggunaan kayu ulin pada Rumah Haji Ciut Binuang juga memiliki nilai budaya. Kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu yang banyak digunakan oleh masyarakat Banjar untuk membangun rumah adat. Hal ini menunjukkan bahwa Rumah Haji Ciut Binuang merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Banjar.

Dengan demikian, penggunaan kayu ulin pada Rumah Haji Ciut Binuang tidak hanya memberikan manfaat secara teknis, tetapi juga memiliki nilai budaya dan estetika. Hal ini menunjukkan bahwa Rumah Haji Ciut Binuang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol budaya masyarakat Banjar.

Berbentuk panggung

Rumah Haji Ciut Binuang berbentuk panggung, yang artinya rumah ini dibangun di atas tiang-tiang kayu. Bentuk panggung ini memiliki beberapa fungsi, di antaranya:

  • Melindungi dari banjirDaerah Binuang, tempat Rumah Haji Ciut Binuang berada, merupakan daerah yang rawan banjir. Bentuk panggung memungkinkan rumah untuk tetap berdiri kokoh meskipun terjadi banjir.
  • Melindungi dari hewan buasBentuk panggung juga berfungsi untuk melindungi penghuni rumah dari serangan hewan buas, seperti harimau dan buaya, yang banyak ditemukan di daerah Binuang.
  • Mengatur sirkulasi udaraRumah berbentuk panggung memungkinkan udara untuk mengalir dengan lancar di bawah rumah. Hal ini membuat rumah menjadi lebih sejuk dan nyaman untuk dihuni.

Selain fungsi-fungsi tersebut di atas, bentuk panggung juga memiliki nilai budaya bagi masyarakat Banjar. Bentuk panggung merupakan salah satu ciri khas rumah adat Banjar, dan menunjukkan bahwa Rumah Haji Ciut Binuang merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Banjar.

Memiliki banyak kamar

Rumah Haji Ciut Binuang memiliki banyak kamar, yang menjadi salah satu ciri khas rumah adat Banjar. Banyaknya kamar pada Rumah Haji Ciut Binuang menunjukkan bahwa rumah ini dirancang untuk menampung banyak orang. Hal ini sesuai dengan fungsi Rumah Haji Ciut Binuang yang sering digunakan untuk acara-acara besar, seperti acara pernikahan atau acara keagamaan.

Banyaknya kamar pada Rumah Haji Ciut Binuang juga menunjukkan bahwa masyarakat Banjar sangat menghargai kebersamaan dan kekeluargaan. Rumah yang besar dengan banyak kamar memungkinkan keluarga besar untuk tinggal bersama dalam satu atap. Hal ini memperkuat ikatan kekeluargaan dan memudahkan anggota keluarga untuk saling membantu dan mendukung.

Selain itu, banyaknya kamar pada Rumah Haji Ciut Binuang juga menunjukkan bahwa masyarakat Banjar sangat ramah dan terbuka terhadap tamu. Rumah yang besar dengan banyak kamar memungkinkan masyarakat Banjar untuk menerima tamu dengan baik dan memberikan tempat yang layak untuk menginap. Hal ini mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Banjar, seperti gotong royong dan saling menghormati.

Dapat menampung banyak orang

Rumah Haji Ciut Binuang dirancang untuk dapat menampung banyak orang. Hal ini terlihat dari banyaknya kamar yang terdapat pada rumah ini. Banyaknya kamar ini menunjukkan bahwa rumah ini sering digunakan untuk acara-acara besar, seperti acara pernikahan atau acara keagamaan. Selain itu, banyaknya kamar juga menunjukkan bahwa masyarakat Banjar sangat menghargai kebersamaan dan kekeluargaan. Rumah yang besar dengan banyak kamar memungkinkan keluarga besar untuk tinggal bersama dalam satu atap.

Dalam konteks ajaran Islam, rumah yang dapat menampung banyak orang sangat dianjurkan. Islam mengajarkan umatnya untuk saling membantu dan mendukung. Rumah yang besar dengan banyak kamar memungkinkan umat Islam untuk menampung tamu atau saudara yang membutuhkan tempat tinggal. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang mewajibkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama.

Selain itu, rumah yang dapat menampung banyak orang juga dapat digunakan untuk kegiatan keagamaan. Misalnya, rumah ini dapat digunakan untuk pengajian, shalat berjamaah, atau kegiatan keagamaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai sarana ibadah dan pengembangan spiritual.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rumah yang dapat menampung banyak orang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Banjar. Rumah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat kebersamaan, membantu sesama, dan beribadah.

Terletak di daerah Binuang, Kalimantan Selatan

Rumah Haji Ciut Binuang terletak di daerah Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Letak geografis ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keberadaan dan perkembangan rumah adat tersebut.

  • Pusat Kebudayaan Banjar
    daerah Binuang merupakan salah satu pusat kebudayaan Banjar. Di daerah ini terdapat banyak peninggalan sejarah dan budaya Banjar, termasuk Rumah Haji Ciut Binuang. Keberadaan rumah adat ini menjadi bukti kekayaan dan keanekaragaman budaya Banjar.
  • Bahan Baku Melimpah
    daerah Binuang memiliki sumber daya alam yang melimpah, terutama kayu ulin. Kayu ulin merupakan bahan baku utama pembuatan Rumah Haji Ciut Binuang. Kayu ini dikenal dengan kekuatan dan keawetannya, sehingga sangat cocok digunakan untuk membangun rumah adat yang kokoh dan tahan lama.
  • Keahlian Pengrajin
    daerah Binuang memiliki banyak pengrajin yang ahli dalam membangun Rumah Haji Ciut Binuang. Keahlian ini diturunkan dari generasi ke generasi, sehingga kualitas dan keaslian rumah adat tersebut tetap terjaga.
  • Objek Wisata Budaya
    Rumah Haji Ciut Binuang menjadi salah satu objek wisata budaya yang menarik di daerah Binuang. Rumah adat ini sering dikunjungi oleh wisatawan yang ingin belajar tentang kebudayaan Banjar dan melihat langsung keunikan arsitektur Rumah Haji Ciut Binuang.

Dengan demikian, letak geografis Rumah Haji Ciut Binuang di daerah Binuang, Kalimantan Selatan, memiliki pengaruh yang besar terhadap keberadaan, perkembangan, dan kelestarian rumah adat tersebut.

Merupakan warisan budaya masyarakat Banjar

Rumah Haji Ciut Binuang merupakan warisan budaya masyarakat Banjar yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Rumah adat ini menjadi bukti kekayaan dan keanekaragaman budaya Banjar. Keberadaan Rumah Haji Ciut Binuang hingga saat ini menunjukkan bahwa masyarakat Banjar sangat menghargai dan melestarikan warisan budayanya.

Rumah Haji Ciut Binuang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya masyarakat Banjar. Arsitektur rumah adat ini yang menyerupai perahu menunjukkan bahwa masyarakat Banjar memiliki tradisi berlayar dan dekat dengan air. Selain itu, ornamen dan ukiran yang menghiasi Rumah Haji Ciut Binuang juga memiliki makna dan filosofi tertentu yang mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Pelestarian Rumah Haji Ciut Binuang sangat penting dilakukan untuk menjaga kelestarian warisan budaya masyarakat Banjar. Upaya pelestarian dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

  • Menetapkan Rumah Haji Ciut Binuang sebagai cagar budaya.
  • Melakukan perawatan dan renovasi Rumah Haji Ciut Binuang secara berkala.
  • Mengembangkan Rumah Haji Ciut Binuang sebagai objek wisata budaya.
  • Mengajarkan generasi muda tentang nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Rumah Haji Ciut Binuang.

Dengan menjaga kelestarian Rumah Haji Ciut Binuang, kita dapat melestarikan warisan budaya masyarakat Banjar dan memperkayakan khazanah budaya Indonesia.

Masih banyak dijumpai di daerah Binuang

Rumah Haji Ciut Binuang merupakan salah satu jenis rumah adat suku Banjar yang masih banyak dijumpai di daerah Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Keberadaan rumah adat ini menjadi bukti bahwa masyarakat Banjar sangat menghargai dan melestarikan warisan budayanya.

  • Penyebaran geografis
    Rumah Haji Ciut Binuang masih banyak dijumpai di daerah Binuang karena rumah adat ini merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Banjar yang mendiami daerah tersebut.
  • Nilai budaya
    Masyarakat Banjar sangat menghargai nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Rumah Haji Ciut Binuang, sehingga mereka berupaya untuk melestarikan rumah adat ini.
  • Fungsi sosial
    Rumah Haji Ciut Binuang masih banyak digunakan untuk acara-acara sosial, seperti acara pernikahan dan acara keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa rumah adat ini masih memiliki fungsi sosial yang penting bagi masyarakat Banjar.
  • Objek wisata
    Rumah Haji Ciut Binuang juga menjadi salah satu objek wisata budaya yang menarik di daerah Binuang. Keberadaan rumah adat ini dapat menarik wisatawan untuk berkunjung dan belajar tentang kebudayaan Banjar.

Dengan demikian, masih banyaknya Rumah Haji Ciut Binuang di daerah Binuang menunjukkan bahwa masyarakat Banjar sangat menghargai dan melestarikan warisan budayanya. Rumah adat ini tidak hanya menjadi bukti kekayaan budaya Banjar, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi

Rumah Haji Ciut Binuang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi bagi masyarakat Banjar dan Indonesia secara keseluruhan. Nilai sejarahnya terletak pada statusnya sebagai salah satu rumah adat tradisional suku Banjar yang masih lestari hingga kini. Rumah ini juga menjadi saksi bisu perkembangan kebudayaan Banjar, khususnya di daerah Binuang, Kalimantan Selatan.

  • Kekayaan Arsitektur

    Arsitektur Rumah Haji Ciut Binuang yang menyerupai perahu menunjukkan kearifan lokal masyarakat Banjar yang hidup di daerah perairan. Rumah ini juga memiliki banyak ornamen dan ukiran yang bermakna, sehingga memiliki nilai estetika yang tinggi.

  • Filosofi dan Simbolisme

    Setiap bagian dari Rumah Haji Ciut Binuang memiliki makna dan simbolisme tertentu yang mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar. Misalnya, bentuk atap yang menyerupai perahu melambangkan harapan dan perjalanan hidup, sedangkan ukiran burung phoenix melambangkan keabadian dan kebijaksanaan.

  • Identitas Budaya

    Rumah Haji Ciut Binuang merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Banjar. Rumah ini sering digunakan untuk acara-acara adat dan keagamaan, serta menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat.

  • Potensi Wisata Budaya

    Rumah Haji Ciut Binuang memiliki potensi wisata budaya yang tinggi. Keunikan arsitektur dan nilai sejarahnya dapat menarik wisatawan untuk berkunjung dan mempelajari kebudayaan Banjar.

Dengan demikian, nilai sejarah dan budaya yang tinggi pada Rumah Haji Ciut Binuang menjadikannya sebagai warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Banjar dan Indonesia. Rumah adat ini tidak hanya memiliki nilai estetika dan simbolisme, tetapi juga mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman budaya Indonesia.

Pertanyaan Umum tentang Rumah Haji Ciut Binuang

Apa itu Rumah Haji Ciut Binuang?

Rumah Haji Ciut Binuang adalah salah satu jenis rumah adat suku Banjar yang berasal dari daerah Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Pertanyaan 2: Mengapa rumah adat ini disebut Rumah Haji Ciut Binuang?

Nama “Haji Ciut Binuang” berasal dari nama pemilik pertama rumah adat ini, yaitu Haji Muhammad Ciut yang merupakan seorang tokoh masyarakat yang dihormati di daerah Binuang.

Pertanyaan 3: Apa keunikan dari Rumah Haji Ciut Binuang?

Keunikan Rumah Haji Ciut Binuang terletak pada arsitekturnya yang menyerupai perahu, serta ukiran dan ornamennya yang bermakna.

Pertanyaan 4: Bagaimana cara pembuatan Rumah Haji Ciut Binuang?

Rumah Haji Ciut Binuang dibangun menggunakan teknik tradisional dan bahan-bahan alami, seperti kayu ulin dan ijuk.

Pertanyaan 5: Apa fungsi Rumah Haji Ciut Binuang?

Rumah Haji Ciut Binuang berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat acara adat dan keagamaan, serta objek wisata budaya.

Pertanyaan 6: Bagaimana cara melestarikan Rumah Haji Ciut Binuang?

Pelestarian Rumah Haji Ciut Binuang dapat dilakukan melalui perawatan dan renovasi secara berkala, menetapkan sebagai cagar budaya, serta mengembangkannya sebagai objek wisata budaya.

Kesimpulannya, Rumah Haji Ciut Binuang merupakan warisan budaya masyarakat Banjar yang memiliki keunikan dan nilai sejarah yang tinggi. Pelestarian rumah adat ini sangat penting untuk menjaga kelestarian budaya Banjar.

Artikel selanjutnya akan membahas lebih lanjut tentang teknik pembuatan dan makna ukiran pada Rumah Haji Ciut Binuang.

Tips Merawat Rumah Haji Ciut Binuang

Rumah Haji Ciut Binuang merupakan warisan budaya yang harus dirawat dan dilestarikan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan:

Tip 1: Bersihkan secara teratur
Bersihkan Rumah Haji Ciut Binuang secara teratur menggunakan kain lembut atau sikat halus. Hindari menggunakan bahan kimia keras yang dapat merusak bahan bangunan rumah.

Tip 2: Periksa secara berkala
Lakukan pemeriksaan secara berkala untuk mendeteksi kerusakan atau kebocoran pada atap, dinding, dan bagian rumah lainnya. Perbaikan dini dapat mencegah kerusakan yang lebih parah.

Tip 3: Rawat kayu ulin
Kayu ulin merupakan bahan utama pembuatan Rumah Haji Ciut Binuang. Rawat kayu ulin dengan cara mengoleskan minyak khusus atau cairan pelindung untuk mencegah lapuk dan serangan rayap.

Tip 4: Jaga kebersihan lingkungan
Lingkungan sekitar Rumah Haji Ciut Binuang harus dijaga kebersihannya. Hindari membuang sampah sembarangan dan bersihkan saluran air agar tidak tersumbat.

Tip 5: Hindari renovasi sembarangan
Apabila ingin melakukan renovasi, pastikan untuk berkonsultasi dengan ahli atau pengrajin yang berpengalaman dalam merawat Rumah Haji Ciut Binuang. Renovasi yang tidak tepat dapat merusak keaslian dan nilai budaya rumah adat ini.

Summary of key takeaways or benefitsDengan mengikuti tips di atas, Anda dapat membantu melestarikan Rumah Haji Ciut Binuang sebagai warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Banjar dan Indonesia.

Transition to the article’s conclusionTips-tips di atas dapat diterapkan untuk menjaga kondisi Rumah Haji Ciut Binuang agar tetap kokoh dan indah. Dengan perawatan yang baik, rumah adat ini dapat terus digunakan dan dinikmati oleh generasi mendatang.

Kesimpulan

Rumah Haji Ciut Binuang merupakan rumah adat Banjar yang memiliki keunikan dan nilai sejarah yang tinggi. Rumah ini menjadi bukti kekayaan dan keragaman budaya Banjar, serta mencerminkan kearifan lokal masyarakat yang hidup di daerah perairan.

Pelestarian Rumah Haji Ciut Binuang sangat penting untuk dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti perawatan dan renovasi secara berkala, menetapkan sebagai cagar budaya, serta mengembangkannya sebagai objek wisata budaya. Dengan demikian, generasi mendatang dapat terus menikmati dan mempelajari kekayaan budaya Banjar yang terkandung dalam Rumah Haji Ciut Binuang.



Artikel Terkait

Bagikan:

lisa

Hai, nama aku Lisa! Udah lebih dari 5 tahun nih aku terjun di dunia tulis-menulis. Gara-gara hobi membaca dan menulis, aku jadi semakin suka buat berbagi cerita sama kalian semua. Makasih banget buat kalian yang udah setia baca tulisan-tulisanku selama ini. Oh iya, jangan lupa cek juga tulisan-tulisanku di Stikes Perintis, ya. Dijamin, kamu bakal suka! Makasih lagi buat dukungannya, teman-teman! Tanpa kalian, tulisanku nggak akan seistimewa ini. Keep reading and let's explore the world together! 📖❤️

Cek di Google News

Artikel Terbaru